Tekanan Seorang Karyawati

Semua ini berawal dari malam itu, aku terbangun karena ketiduran di meja ketika sedang lembur menyelesaikan proyek untuk mendapatkan cuti lebih awal. Kantorku merupakan perusahaan menengah kebawah yang menyewa dua lantai sebuah ruko Jakarta. Biasanya yang berjaga disini hanyalah Mas OB, office boy yang juga sekaligus diberikan tempat tinggal disini, sebuah ranjang kecil dengan korden lebar di pojok kantor lantai atas. Aku melirik jam di handphone-ku, sudah jam 10 malam? Padahal terakhir kali aku melihat, masih jam 7 malam. Aku memang tidak biasa bekerja lama-lama, pasti jadinya ngantuk dan lelah, padahal niatnya agar pekerjaanku cepat selesai.

Aku melihat sekelilingku, lantai bawah gelap gulita dan sangat mencekam. Apa Mas OB tidak tahu aku masih di kantor ya? Sepertinya ia tidak melihat aku yang tertidur karena partisi meja kerja yang ditinggikan. Aku mengambil handphone-ku dan mulai menyenter. “Lala” namaku terbaca jelas diatas buku kerja ketika kupencet handphoneku. Cahaya dari senter handphoneku sangat kecil sehingga aku harus berjalan perlahan-lahan agar tidak menyandung dan menjatuhkan dokumen penting. Ketika sudah mendekati saklar lampu di dekat tangga, aku menyadari sesuatu yang aneh. Lantai dua menyala, dan ada dua bayangan yang tampak… “sedang bergerak”.

Dua bayangan itu bergerak dengan gerakan teratur namun penuh gesa. Dan baru kusadari suara mereka yang sayup-sayup. Aku mengenali gerakan itu seperti dalam film dewasa yang pernah kulihat, gerakan bercinta. Tapi siapa dan siapa? Di tempat dan waktu seperti ini? Mas OB? Dengan siapa? Hatiku berdesir kencang karena takut dan… rasa penasaran. Kuperhatikan bayangan itu selama beberapa menit, bayangan dengan postur Mas OB menggenjot bayangan sosok wanita dengan nikmatnya. Pantat wanita itu pun membalas genjotan dengan gerakan menggoyang yang seksi. Dengan perlahan kunaiki tangga itu dan sambil berjinjit kuintip.

Ternyata sosok tersebut ialah benar Mas OB dan Bu Ros ! Mataku membelalak karena kaget, Bu Ros adalah atasanku yang sudah bersuami dan sangat religius. Tapi disini aku melihatnya telanjang, menungging dengan payudara dan pinggul yang berisi. Dan dengan bagian kewanitaan yang digenjot oleh… alat kelamin pria lain selain suaminya. Pipiku memerah melihat ukuran milik Mas OB yang besar dan tebal. Mereka pun berhenti sejenak dan berbisik, namun walau berbisik, terdengar jelas di ruangan yang sepi ini.

“Kamu mau saya isep ?” tanya Bu Ros tenang.

“Isep bu, isep” jawab Mas OB dengan semangat seperti anjing yang hendak diberi tulang.

Dan Bu Ros pun membuka mulutnya, sehingga penis milik Mas OB masuk perlahan dan bersentuhan dengan bibir Bu Ros. Melihat bibir Bu Ros yang lembut bersentuhan dengan penis Mas OB tiba-tiba membuatku merasa ingin kencing. Bu Ros pun mengulum maju mundur penis Mas OB seperti es krim sehingga penis Mas OB berlumuran basah.Ia mengisap dan sesekali mengeluarkan lidahnya untuk menjilat. Wajah Mas OB terlihat sangat keenakan sampai ia merem melek, namun Bu Ros tetap mengisap penisnya tanpa ampun. Sialnya, entah kenapa kakiku berkeringat dan menegang, aku terpeleset dan ketahuan oleh mereka.

“Siapa disana!” teriak Mas OB kencang.

Dalam hitungan detik, mereka yang masih telanjang sudah menangkap basah aku yang bersandar pada pinggiran tangga.

“Lala!?” seru Bu Ros.

Aku reflek membuang pandangan dan menutup mataku karena takut.

“Mas, tarik dia kesini.” perintah Bu Ros dan Mas OB pun menarikku dengan kasar ke lantai dua. Aku bisa merasakan penisnya menyentuh pantatku ketika ia mendorongku. Ia pun membantingku ke lantai dan mereka berdua melihatku dengan tatapan yang menusuk dari atas ke bawah.

“Maaf Bu, saya tidak bermaksud mengintip.” ucapku lirik memecah keheningan. Berharap segera bisa kabur dari situasi tak nyaman ini.

“Kamu suka yang kamu lihat ?” tanya Bu Ros lantang.

“Maaf ?”

“Kamu suka? Nonton saya ngentod sama Mas OB?”

Aku pun kehabisan kata-kata. Apa yang harus kujawab? Pertanyaan apa ini?

“Buka blusmu.”

“Buka ?”

“Buka.”

“Ta..tapi bu… saya…” Aku mencoba menolak perintah Bu Ros. Apa maksudnya menyuruhku membuka blusku?

“Mas, buka baju dia.”

Mas OB pun memitingku ke lantai dan duduk diatas pinggangku, aku pun langsung tak berdaya sekaligus takut, dapat kulihat penisnya mengeras dan naik lagi ketika ia membuka tiap kancing blusku dengan kasar. Dan ketika ia melihat bra-ku, ia pun langsung menarik turun dengan kencang sampai tali bra-ku putus dan mengekspos payudaraku yang sedang namun montok. Dapat kurasakan pandangan Mas OB begitu bengis seperti hewan liar ketika ia melihat pada payudaraku yang telanjang. Ia pun membasahi telunjuknya dengan cairan dari ujung penisnya dan memencet pentilku,”Aah..” reflek membuatku mendesah pelan, lalu mengoleskan cairan penisnya pada pentilku secara berputar, membuatku mendesah lagi tiap putaran jarinya mengelilingi pentilku ,”Aaah… ahh…” rasa nikmat pun memenuhi otakku, membuatku lupa akan rasa takutku.

Tanpa kusadari, celana dalamku membanjir karena rasa terangsang yang amat sangat menggodaku. Hal ini baru kusadari ketika Bu Ros membuka bagian tengah celana dalamku.

“Kamu menikmati ya.” Bu Ros berkomentar dari belakang tubuh Mas OB dan menahan tengah celana dalamku sambil melihat isinya. Membuatku sangat malu.

Jemari Bu Ros yang lentik pun masuk dalam belahan vaginaku dan basah dan membelainya turun perlahan ,”Jangan… Aaah…” aku menutup mataku kencang, jemarinya berputar disekitar liang kenikmatanku dan membelai naik menuju klitorisku, memberikan rasa nikmat luar biasa yang membuatku menarik napas panjang dan menahannya. Disaat yang bersamaan, Mas OB pun tiba-tiba menggunakan jari-jarinya yang lengket untuk menekan pelan sambil mengelilingi pentilku ,”Aaah, aaah, aaah…” hilang sudah rasa takutku digantikan ekstasi yang luar biasa. Mas OB pun segera mengangkat badannya dan menusuk pentilku dengan penisnya. Ia mengarahkan ujung penisnya yang botak dan basah hingga bersentuhan dengan pentilku lalu menusuk pentilku kencang memberikan sensasi yang sangat berbeda dengan jari ,”A..” aku mulai mendesah, tanpa kusadari, blesssh, ada jari yang masuk dalam liang kenikmatanku, dengan cepat menusuk dan srrrek perlahan menekan dinding vaginaku. Seperti anak-anak yang menahan mual, vaginaku pun memuntahkan cairan panas yang seketika membuatku lemas. Aku klimaks. Membasahi celana dalam dan rok sepanku.

Sambil terkapar lemas, Bu Ros dan Mas OB melanjutkan urusan mereka berdua tadi, namun aku tak menonton mereka karena ada yang lebih mengejutkan dari itu.

Foto bugilku di tangan Bu Ros.

Dengan pantat yang ditunggangi Mas OB, Bu Ros tersenyum kepadaku dan menunjukkan layar handphone-nya.

“Kamu pulang, dan jangan bilang siapa-siapa. Kamu tahu kan apa yang akan saya lakukan kalau kamu tidak menurut ?”

“Oh ya, jangan coba-coba resign ataupun bolos besok, masih banyak yang harus kita lakukan… Yah… Ah… ” Lanjutnya sambil mendesah.

Aku menelan liurku dengan rasa tidak percaya, sepertinya aku telah terjebak dalam suasana… penuh tekanan.

(CHAPTER I TAMAT)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s